Resume Buku Memanen Air Hujan

Penyelamatan Lingkungan

Judul Buku: Memanen Air Hujan (Rainwater Harvesting)
Penulis: Agus Maryono
Tahun Terbit: Pebuari 2017
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Jumlah Halaman: 132
ISBN : 978-602-386-089-0

Buku Memanen Air Hujan  ini menjelaskan tentang upaya penyelamatan lingkungan, meminimalisasi bencana banjir di musim penghujan, dan mengurangi bencana kekeringan di musim kemarau. Inspirasi muncul dari terjadinya banjir di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia yang berlangsung setiap tahunnya di musim penghujan.

Masyarakat pada umumnya selalu menyalahkan hujanlah penyebab bencana banjir. Namun kita harus menyadari bahwa sebenarnya bukanlah hujan sebagai penyebab utamanya, melainkan bagaimana kita mengelola air hujan yang turun di Daerah Aliran Sungai (DAS), lalu selanjutnya mengalir ke hilir. Air hujan tidak dikelola dengan baik, justru pembangunan drainase yang terus dilakukan. Semakin baik system drainase maka besar kemungkinan terjadi banjir di bagian hilirnya dan semakin besar juga kemungkinan terjadi kekeringan di bagian hulu pada saat musim kemarau.

Konsep Drainase

Konsep drainase ramah lingkungan merupakan salah satu solusi mengatasi permasalahan lingkungan yang harus secara aktif dan segera disosialisasikan kepada masyarakat luas. Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan dan memelihara dengan tidak menimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan. Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan, dan Pelihara. Dimana memanen air hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada makna Tampung dan Resapkan.

Bagi kaum muslim, mengelola air hujan merupakan tindakan yang sangat penting dan harus ditempuh karena Allah Swt. sudah menjelaskan di beberapa ayat dalam Al Quran, yaitu QS. Az Zumar 39:21, QS. An Nur 24:43, dan QS. An Nahl: 10-11. Tindakan tersebut berupa mengelola, menjaga keberlanjutan kualitas, kuantitas dan kontribusinya sepanjang tahun, memanfaatkannya untuk kemaslahatan, mengatur alirannya saat di muka bumi dan sebagainya.

Rainwater harvesting dengan teknik modern dapat dilakukan dengan kolam (bak) tandon di atas dan di dalam tanah. Air hujan dari atap dikumpulkan lewat talang, dialirkan dengan pipa masuk ke kolam atau bak (tandon). Pada inlet dilengkapi saringan air sehingga seresah dan sedimen kecil lainnya tidak bisa masuk ke kolam tendon. Disamping alat saring fisik, inlet juga dilengkapi dengan alat penjernihan air kecil untuk memastikan bahwa air yang akan dipompa memenuhi standard mutu. Kemudian air dipompa ke dalam rumah untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Baca juga : 7 Tips Menjaga Persahabatan Jarak Jauh

Cara Memanen Air Hujan

Memanen air hujan dengan bak tendon di atas permukaan tanah dilengkapi dengan berbagai aksesori yang diperlukan. Jenis ini cocok dipasang di kompleks perumahan, perkantoran, dan lain-lain. Prinsip kerja hampir sama dengan tendon di bawah tanah, hanya ditambah pipa vertikal untuk menampung air limpasan awal hujan atau 15 menit hujan turun yang pertama.

Pada alur pipa vertikal diberi bola isi udara yang dapat naik turun, sehingga air hujan awal sebagai pembersih atap dapat terbuang. Selang beberapa waktu (15 menit) bola mencapai ujung pipa vertikal sehingga air mengalir ke pipa horizontal menuju bak tendon. Jika hujan cukup deras dan tendon penampung tidak bisa mencukupi, maka dapat dipasang pipa untuk memparalelkan dengan tendon berikutnya.

Pilihan lainnya dipasang pipa vertikal yang dialirkan ke dalam sumur atau sumur resapan, sehingga air dapat disimpan sebagai cadangan air tanah. Dengan demikian permukaan air tanah dapat meningkat, untuk menopang kebutuhan di musim kemarau berikutnya.

Baca juga : Tips Membangun Rumahku Surgaku

Mangkah-langkah Memanen Air Hujan

Memanen air hujan untuk diresapkan ke dalam tanah guna mengisi air tanah, dapat ditempuh melalui beberapa cara yaitu dengan:
(1) Membuat kolam pengumpul air hujan (PAH),
(2) Sumur resapan air hujan pada area terbuka,
(3) Parit resapan air hujan pada areal pertanian dan pekarangan,
(4) Pembuatan areal peresapan air hujan berupa porous paving block atau Grass block,
(5) Tanggul pekarangan berupa susunan batu kosong, batu bata, genteng bekas dan tanaman mengelilingi pekarangan,
(6) Pagar pekarangan,
(7) Lubang galian tanah (jogangan),
(8) Modifikasi lanskap dapat diterapkan pada kawasan perumahan atau perkantoran, lahan tegalan, perbukitan dengan membuat terasering,
(9) Penetapan daerah konservasi air tanah,
(10) Kolam konservasi (tampungan) air hujan,
(11) Revitalisasi danau, telaga dan situ,
(12) Hutan dan tanaman sebagai pemanen air hujan.

Efek memanen air hujan diantaranya adalah berkurangnya banjir, kekeringan, masalah air bersih, penurunan muka air tanah dan permasalahan lingkungan.

Sekelumit Tentang Penulis

Buku ini ditulis oleh Dr. Ing. Ir. Agus Maryono atas keprihatinannya terhadap bangsa Indonesia dengan permasalahan lingkungan yang ada. Banjir dan kekeringan datang silih berganti di Jakarta maupun di pelosok negeri, seiring pergantian musim.
Buku memanen air hujan ini didedikasikan untuk bangsa Indonesia, dimaksudkan sebagai panduan bagi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, perusahaan, kelompok masyarakat dan rumah tangga untuk menanggulangi banjir, kekeringan dan penyediaan air bersih, agar gema dan pergerakannya meluas ke seluruh Indonesia Raya.

Jepara, 27 September 2020
Anisah Salmah

1 comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *