Resume Buku “Jangan Buang Ibu Nak…”

Judul : Jangan Buang Ibu, Nak …
Penulis : Wahyu Derapriyangga
Tahun Terbit : Cetakan kedua, 2014
Penerbit : Wahyu Qolbu
Jumlah Halaman : 209 halaman
ISBN : 979-795-856-6

Buku Jangan Buang Ibu, Nak, Tentang Perjuangan Ibu

Buku Jangan Buang Ibu, Nak adalah novel fiksi tentang perjuangan seorang ibu dalam menghantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan.

Restiana adalah tokoh utama dalam cerita ini. Ia adalah seorang ibu yang luar biasa. Restiana adalah single parent dikarenakan suaminya Handoko meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah merasakan berat dan susahnya mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya. Dia mempunyai dua orang putra dan satu orang putri dari pernikahannya.

Perjuangan single Parent

Kisah perjuangan Ibu Restiana ini dimulai saat dia harus bekerja banting tulang demi menghidupi ketiga buah hatinya. Almarhum suaminya hanyalah seorang buruh yang tidak meninggalkan harta warisan. Dengan hanya berbekal tekad ingin menghantarkan anak-anaknya sukses kelak di kemudian hari, Restiana berjualan di pasar. Setiap hari setelah mengantarkan kedua putranya ke sekolah dia pergi ke pasar untuk berdagang. Saat siang menjelang dia kembali ke rumah dengan tidak lupa menjemput kedua putranya. Putri bungsunya sejak pagi sampai siang dititipkan ke tetangganya Ibu Sumi yang kebetulan tidak dikarunia anak.

Begitulah takdir. Dari hari ke hari rutinitas Ibu Restiana tidak pernah berubah. Hingga pada suatu hari sebuah kejadian memporak-porandakan apa yang dia tekuni selama ini. Pada suatu waktu di siang hari, entah bagaimana ceritanya diapun tidak mengetahui. Pasar tempat dia mencari nafkah tiba-tiba dibakar oleh sekelompok orang. Ibu Restiana yang pada hari itu pulang lebih awal berpapasan dengan sekelompok perusak tersebut. Dirinya ditabrak dan sepeda ontel peninggalan suaminya yang biasa dia pakai untuk bekerja diambil oleh sekelompok pemuda tak dikenal. Betapa hancurnya hati Ibu Restiana karena dia sudah tidak punya kendaraan dan modal lagi untuk mencari nafkah.

Baca juga : 7 Keterampilan Remaja Saat Pandemi

Titik Balik Hidup ibu Restiana

Sepertinya nasib baik masih berpihak pada Restiana. Ibu Sumi tetangganya yang baik hati meminjamlan mesin jahit kepadanya. Dengan bekal mesin jahit tersebut Restiana kembali dapat bekerja dan menghidupi anak-anaknya. Putra pertama Restiana biasa dipanggil Sulung. Putra kedua dipanggil Tengah, dan putri terakhir dipanggil Bungsu. Mereka adalah anak-anak yang berbakti pada orangtuanya.

Sulung mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Dia adalah anak yang rajin belajar. Hari-harinya selalu diisi dengan membaca buku, jadi tidaklah heran kalau dia selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Tengah tidaklah sepandai Sulung, tetapi dia mempunyai tenaga dan daya tahan tubuh yang luar biasa. Tengah mempunyai hobby bercocock tanam. Halaman belakang rumah mereka dipenuhi sayur-sayuran hasil tanaman Tengah. Sedang si Bungsu dari kecil sudah diajari menari oleh Ibu Sumi tetangganya. Jadi tidaklah heran kalau dia sangat mahir dalam menari.

Warna Wari Kehidupan dalam Buku Jangan Buang Ibu, Nak

Perjalanan hidup Ibu Restiana dan ketiga anaknya begitu berwarna. Penuh dengan kegetiran dan kepahitan. Hidup dengan penghasilan pas-pasan. Tetapi hal tersebut tidaklah memutuskan semangat keluarga ini. Saat Sulung lulus dari SMA, dengan niat ingin menjadikan Sulung sukses, Ibu Restiana menjual rumahnya untuk biaya Sulung kuliah. Dari sisa penjualan rumahnya, Restiana membawa Tengah dan Bungsu pindah ke Bogor sedang Sulung tetap di Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya.

Buku Jangan Buang Ibu, Nak, mengisahkan  bahwa seiring berjalannya waktu, Tengah pun selesai menuntaskan sekolahnya. Bungsu sudah masuk Sekolah Dasar. Karena tidak ada biaya, Tengah tidak melanjutkan kuliah. Dia membantu ibunya dengan menggarap sawah bibinya. Setiap mendapatkah upah, uangnya selalu dia berikan ke ibunya untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari. Restiana sedih melihat keadaan Tengah. Dia merasa bersalah karena tidak dapat menyekolahkan Tengah ke bangku kuliah. Sedangkan Sulung juga tidak pernah memberikan kabar atau pulang untuk bertemu dengan ibunya.

Dalam kesedihan dan tekadnya ingin menghantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan, Ibu Restiana mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia memimpikan punya tanah sendiri dengan cara menjadi transmigran ke Pulau Sumatera. Keinginannya pun disampaikan kepada putra dan putrinya. Ternyata impiannya diterima kedua anaknya dan mereka pun akhirnya hijrah ke Bengkulu Pulau Sumatra.

Baca juga : Resume Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Perjuangan Baru di Tempat Baru

Awal mereka di daerah trasmigrasi dipenuhi dengan perjuangan yang keras. Memulai hidup dengan mengelolah tanah yang mati hingga menjadi subur. Tapi berkat tekad dan semangat juang yang tinggi, akhirnya mereka pun dapat melalui masa-masa sulit tersebut.

Setelah satu tahun berada di Bengkulu, keluarga Ristiana mendapat kabar bahwa Sulung sudah menyelesaikan kuliahnya dan mendapat pekerjaan di Malaysia. Betapa bangganya Restiana mendengar kabar tersebut. Tengah pun sudah mempunyai hasil usaha yang lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Bungsu sudah bertambah besar dan beberapa tahun kemudia semua menjadi lebih baik. Akhirnya bungsu pun dilamar seorang Abdi Negara. Setelah dia menikah akan dibawa ke Jakarta. Ibu Restiana pun diajak Bungsu dan suaminya boyong ke Jakarta.

Ternyata usia tidaklah dapat dibohongi. Restiana yang dulunya kuat harus mengakui bahwa sekarang usianya tidaklah muda lagi. Perjalanan dari Bengkulu ke Jakarta membuatnya kelelahan dan harus banyak beristirahat. Setelah sampai di Jakarta dia tidak diizinkan Bungsu untuk bekerja lagi sehingga hari-harinya hanya duduk dan menanam bunga saja di halaman rumah Bungsu.

Akhir yang Menyedihkan

Waktu pun berjalan dengan cepat. Pada suatu malam keluarga Bungsu didatangi tamu dari pihak kepolisian. Restiana yang saat itu sudah tertidur pulas terbangun dari tidurnya. Dari kamar dia mendengarkan pembicaraan Bungsu dan menantunya dengan tamu tersebut. Dia mendengar berita bahwa Sulung ternyata adalah buronan polisi. Selama ini dia tidak menyelesaikan kuliahnya dan tidak ke Malaysia. Dia menjadi pengedar narkoba dan sedang dicari keberadaannya oleh polisi. Langit rasanya runtuh dan akhirnya Restiana pun pingsan. Saat dia terbangun ternyata dia sudah berada di rumah sakit dan mengalami stroke serta tidak dapat berbicara lagi.

Bungsu dan menantunya merawatnya dengan baik. Tetapi ternyata takdir berkata lain, menantunya mendapat tugas di Aceh dan akan membawa istrinya Bungsu ikut serta. Restiana dengan berat hati harus ditinggalkan dan dititipkan di Panti Jompo. Betapa sedihnya hati Restiana karena di masa tuanya saat dia membutuhkan kasih sayang anaknya malah dia harus berteman dengan sepi dalam bilik kamarnya sampai ajal menjemputnya tidak didampingi anak dan menantunya. Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan.

Demikianlah rangkuman atau resume Buku Jangan Buang Ibu, Nak. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari novel ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.

1 comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *