[Cerbung] Mumut dan Kuas Ajaib (Bagian 1)

Mumut adalah seekor semut hitam yang suka melukis. Ia mewarisi bakatnya tersebut dari ibunya. Suatu hari, Mumut melewati pasar di dekat rumahnya. Di pasar itu, ramai kawanan semut merubungi papan pengumuman. Mumut jadi penasaran. Ia ingin tahu ada kabar apa hari ini.

Kabar Gembira

โ€œPermisi, permisi, aku ingin melihat papan pengumuman!” ujar Mumut berteriak.

Mendengar suara Mumut, kerumunan semut pun membuka jalan, sehingga ia bisa lewat tanpa berdesak-desakkan.

Sesampainya di depan papan pengumuman, Mumut langsung membaca berita yang terpampang.

Wajah Mumut terlihat semringah. Ternyata, berita itu tentang perlombaan melukis saat festival tahunan di Desa Gula. Mumut pun segera berlari pulang untuk memberitahukan kabar gembira mengenai kompetisi itu pada ibunya.

๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ด. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ, kata Mumut dalam hati dengan senyum mengembang di bibir mungilnya walaupun napasnya tersengal-sengal karena berjalan sangat cepat.

Tiba di rumah, Mumut memanggil ibunya.

โ€œIbu, Mumut pulang. Mumut bawa kabar gembira, Bu!โ€ seru Mumut.

Anehnya, ia tidak menjumpai ibunya di dapur ataupun kamar. Mumut mulai khawatir.

๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข? ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ujarnya dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya.

๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜‰๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, kata Mumut dalam hati lagi seraya berjalan cepat menuju rumah bibinya.



 

Rumah itu hanya berjarak sekian jengkal ukuran tangan orang dewasa saja dari rumah Mumut. Benar saja, ibunya sedang ada di rumah Bibi An.

โ€œIbuโ€ฆIbu!” panggil Mumut, โ€œada kabar baik, Bu,โ€ ucap Mumut dengan wajah berpeluh karena berjalan cepat. Ibunya menoleh ke arah Mumut dan segera mendekati.

โ€œAda apa, Mumut? Kamu kok nampak tergesa-gesa sekali?โ€ tanya Ibu penasaran.

Setelah mengatur napas dan tenang, Mumut pun memulai percakapan.

โ€œBu, tadi Mumut ke pasar terus banyak sekali kerumunan semut-semut di depan papan pengumuman. Usai ikut membaca berita di papan tersebut, Mumut tahu kalau sebentar lagi akan diadakan festival tahunan, Bu. Lalu, ada lomba melukis juga. Mumut ingin sekali ikut kompetisi itu bersama Ibu seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Mumut dengan wajah penuh harap.

Ibunya Mumut menatap anaknya dengan lembut.

โ€œOh, jadi, Mumut berjalan cepat tadi kemari untuk menyampaikan berita itu?โ€ tanya ibu Mumut lagi.

Mumut hanya mengangguk. Ia amat menantikan jawaban ibunya. Tak sabar rasanya meliukkan kuas penuh cat berwarna-warni di atas kanvas bersama ibu di kompetisi melukis tahunan.

[ Cerbung ] Kucing Baru Laras – Part1

 

Keraguan

โ€œMumut, tahun ini adalah tahunmu.โ€ ucap ibunya Mumut perlahan.

Mumut merasa tidak paham dengan ucapan Ibu.

โ€œTahunnya Mumut, Bu?โ€ Mumut mengulangi ucapan ibunya dengan nada bertanya.

โ€œIya, sayang. Tahun ini usia Mumut sudah cukup untuk mengikuti kompetisi itu sendirian. Mumut tidak perlu menemani ibu lagi. Ibu akan mengikuti kompetisi yang sesuai dengan kategori usia ibu, sementara Mumut bisa mendaftar untuk berlomba di kategori usianya Mumut. Nanti, ibu akan membelikan kuas dan peralatan lukis untuk Mumut,โ€ ucap ibunya Mumut panjang lebar.

Mumut yang semula semangat, kini tampak murung. Ia jadi tidak bersemangat. Bagaimana mungkin ia akan berlomba tanpa kehadiran ibu di sampingnya? Selama ini, ibunyalah yang selalu memberitahu komposisi warna dan percampuran cat yang tepat untuk membuat gambar. Sekarang, mana mungkin ia membuat karya seperti itu.

Mumut bimbang.

 

Editor : Ira Mutiara

 

Seorang ibu yang ingin terus belajar dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya agar menjadi insan yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *