[Cerpen] Ifa Berani Tidur Sendiri
Tagged Tags:

Oleh : Wien Purwandini

“Alhamdulillah, akhirnya selesai tugas sekolah Ifa, Bun,” seru Ifa dengan riang.

“Alhamdulillah, sekarang ayo kita bereskan semua buku dan alat tulis,” kata Bunda sambil mencium kepala Ifa.

Ifa menaruh tangannya di dahi dengan sikap hormat sambil berseru, “Siaaap, komandan!”

Tak lama kemudian, terlihat Ifa membereskan alat tulisnya, dibantu oleh bunda. Buku-buku dikembalikan ke rak buku, alat tulis dirapikan dan dimasukkan ke kotak pinsil. Kertas-kertas yang tak terpakai dibuang di tempat sampah.

[Cerpen] Hujan dan Doa Aisyah

 

Ifa terbiasa merapikan semua yang dipergunakannya beraktivitas, karena rapi dan bersih itu adalah sebagian dari keimanan.

Setelah selesai cuci kaki dan tangan, Ifa lalu mengganti bajunya dengan piyama.

“Bunda, malam ini aku mau tidur sendiri. Bunda tidak usah menemani,” kata Ifa.

Bunda yang sedang berjalan menuju kamar Ifa menghentikan langkahnya. Ditatapnya anak semata wayangnya itu dengan agak heran. Biasanya, bunda akan menemani Ifa di kamarnya sampai putrinya tertidur. Setelah itu, barulah ia pindah ke kamarnya.



 

“Serius, nih, Ifa mau tidur sendiri tanpa ditemani Bunda terlebih dahulu?” tanya Bunda heran.

“Iya, Bunda. Ifa mau tidur sendiri saja. Ifa kan sudah besar,” jawab Ifa.

“Ifa tidak takut?” Bunda bertanya lagi.

“In syaa Allah tidak, Bun. Mengapa Ifa harus takut? Bukankah Ifa membaca doa sebelum tidur? Ifa mau mengaji sebentar, membaca doa, lalu tidur,” jawab Ifa beruntun.

“Baiklah, Bunda akan mengantar Ifa ke kamar, menemani mengaji, lalu Bunda akan meninggalkan Ifa untuk tidur sendiri,” kata bunda.

Ifa menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. Berdua mereka menuju ke kamar tidur Ifa di lantai dua.

[Kisah Sahabiyah] Al Khansa, Ibunda Para Ksatria

 

Di kamar, bunda membantu Ifa merapikan selimut lalu menemani Ifa mengaji. Sesekali Bunda membetulkan bacaan Ifa yang kurang pas.

Selesai mengaji Ifa membaca doa sebelum tidur, “Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut.”

“Ifa tahu apa artinya doa itu?” tanya bunda.

“Tahu, dong, Bun. Artinya, dengan nama Engkau, ya Allah, aku hidup dan aku mati,” jawab Ifa mantap.

“Anak Bunda pintar. Tahu tidak mengapa doa kita seperti itu? Itu karena Allah menggambarkan peristiwa tidur seperti Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Itu ada di Qur’an Surah Az-Zumar ayat 42,” Bunda menjelaskan kepada Ifa.

Ifa mendengarkan penjelasan bunda dengan seksama.

“Nah, sekarang Ifa tidur. Yakin tidak apa-apa tanpa ditemani Bunda?” tanya bunda lagi.

“Yakin, Bun. Bukankah Allah akan menjaga Ifa?” jawab Ifa berusaha meyakinkan bunda.

“Baiklah, selamat tidur anak pemberani Bunda,” ujar Bunda sambil mencium kedua pipi Ifa lalu beranjak keluar kamar lalu menutup pintu.

Ifa tersenyum. Ia senang karena sudah menjadi anak pemberani. Dan gadis itu yakin, Allah akan selalu menjaganya.

Editor: Indah Taufanny

#joeraganartikel
#eventcermak
#day4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *