[ Cerpen ] Indahnya Berbagi

Membuat Kue Lumpur

Akhir pekan ini, Bu Nida dan anak-anak berencana membuat kue lumpur. Sekarang, mereka sedang menyiapkan alat dan bahannya. Ayah tersenyum melihat kehebohan anak-anaknya. Dalam hati, ia bersyukur memiliki anak-anak yang cekatan dan akur satu sama lain.

“Bu, semuanya sudah siap,” kata Nia sambil menepuk pelan pundak Bu Nida.

“Alhamdulillah. Yuk, kita mulai sekarang,” ajak Bu Nida.

Mereka pun mengangguk tanda setuju. Pada Cooking Class kali ini, Bu Nida hanya mengawasi saja, sesekali membantu jika diperlukan. Nia dan Andi menuangkan adonan ke cetakan secara bergantian, sedangkan Sani memberi topping cokelat dan keju.

Setelah berkutat di dapur selama hampir tiga jam, adonan pun habis. Sani langsung menghitung kue lumpurnya.

“Masyaallah, ada seratus kue, Bu. Banyak sekali,” pekik Sani.

“Alhamdulillah. Sepertinya, kita tidak bisa menghabiskan semua, deh. Bagaimana kalau kita bagikan pada tetangga juga, Bu. Boleh?” Usul Nia.

“Boleh, dong, Sayang. Yuk kita bungkus supaya cantik. Kebetulan Ibu masih punya dus kue,” ajak Ibu.

“Siap, Bu!”

Mereka pun mulai sibuk membungkus.

***

Berbagi pada Tetangga

“Alhamdulillah, ada delapan bungkus, Bu. Pas sekali dengan jumlah tetangga kita di blok ini,” kata Andi bersemangat.

“Alhamdulillah. Yuk, kita bagikan sekarang, Kak!” Ajak Sani.

“Yuk!”

Dengan penuh semangat, mereka langsung pamit keluar. Masing-masing menenteng empat dus kue. Sementara itu, Ibu membantu Nia mencuci dan membersihkan dapur.

Tidak terlalu sulit bagi Andi dan Sani untuk bertemu dengan tetangga pada akhir pekan. Biasanya, mereka lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Jalanan komplek juga terlihat ramai dengan anak-anak yang sedang bermain.

“Asalamualaikum.” ucap Andi dan Sani.

“Waalaikumusalam. Oh Andi dan Sila. Silahkan masuk,” jawab Ammar, pemilik rumah.

“Tidak usah, Mar. Kami hanya ingin berbagi ini saja. Semoga kamu suka, ya,” kata Sani sambil tersenyum.

“Terimakasih, ya,” balas Ammar.

Kue lumpur sudah dibagikan semua. Andi dan Sani pun sudah kembali ke rumah. Mereka menikmati kue lumpur bersama-sama.

***

Menikmati Kue Lumpur

“Bu, kok hati Sani senang sekali setelah berbagi tadi, ya?” ucap si bungsu.

“Iya, Kak Andi juga,” timpal Andi.

“Alhamdulillah. Ibu senang mendengarnya. Berbagi itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Ada yang ingat bunyi hadisnya?” tanya Ibu.

Mereka berusaha mengingat kembali hadis yang pernah diajarkan oleh Ayah.

Tahaddu Tahabbu. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling menyayangi. Hadis Riwayat Bukhari,” jawab Nia.

“Betul sekali, Sayang,” kata Ayah.

Kue lumpur sudah habis. Azan Zuhur pun sudah mulai berkumandang. Ayah mengajak Andi salat di masjid, sedangkan Ibu, Nia, dan Sani berjamaah di rumah.***

Editor: Reni Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *