[ Cerpen] Kanaya Belajar Membaca
Tagged Tags: , ,

Kanaya sedang bermain di kamarnya.

“Nay, udahan mainnya. Belajar dulu, yuk,” kata Bunda berdiri di depan pintu kamar Kanaya.

“Iya, Bunda,” jawab Kanaya sambil terus bermain tanpa melihat ke arah Bunda.

“Yuk, dirapikan mainannya. Habis itu, ambil buku membaca dan pensil, ya.” Bunda membantu membereskan mainan.

Kanaya mengangguk dan menuruti kata-kata Bunda.

Setelah semua mainan dirapikan, Kanaya mengambil tas di atas meja belajar.

Bunda sudah menunggu di ruang TV.

Kanaya kemudian mengeluarkan buku ’30 Hari Membaca & Menulis Tanpa Dieja’ dari dalam tas beserta pensil.

“Duduknya yang baik, dong, Nay,” tegur Bunda saat melihat Kanaya yang duduk dengan posisi kaki dinaikkan ke atas kursi.

Kanaya tidak menjawab, ekspresi bocah berusia 6 tahun itu terlihat tidak nyaman untuk belajar.

“Kanaya kenapa?” tanya Bunda sambil melihat ke arah Kanaya.

Kanaya masih diam dengan bibir dimajukan ke depan.

“Kanaya mau belajar atau enggak?” tanya Bunda lagi.

“Mau Bunda,” jawab Kanaya akhirnya dengan suara pelan, sambil menurunkan kakinya.

“Beneran Naya mau membaca?” tanya Bunda lagi sambil menatap wajah Kanaya.

Gadis berambut ikal itupun menggangguk.

“Kalau Kanaya mau belajar, nanti Bunda kasih sesuatu, deh!” bujuk Bunda memberi janji.

Kanaya pun senang.

“Bunda mau kasih apa?” tanya Kanaya ingin tahu.

Bunda berpikir sebentar, lalu menjawab, “Ehm, oke. Kanaya boleh minta 3 hadiah, ya.” Bunda mengangkat jari tangan menunjukkan tiga ruas jari.

“Makasih, Bunda Cantik,” jawab Kanaya memuji.

“Eh, tapi sekarang belajar dulu, ya,” ucap bunda. Tangannya membuka buku halaman 6.

Kanaya pun mengubah posisi duduknya, kedua tangan dilipat di atas meja.

“Nah, sekarang perhatiin ke sini, ya, Nay,” perintah Bunda menunjuk pada beberapa huruf yang terletak bagian atas yang dicetak tebal.

Pada bagian atas tertulis ba-bi-bu-be-bo. Bunda menunjuk satu per satu huruf untuk dibaca Kanaya.

“Ini huruf apa, Nay?” tanya Bunda.

“Bi,” jawab Kanaya spontan.

“Eh, kita lagi belajar bahasa Indonesia, ya, Nay. Bukan dieja bahasa Inggris. Ini dibaca be. Huruf apa, Nay?” tanya Bunda lagi.

“Be,” jawab Kanaya sambil menganggukkan kepala.

“Bagus. Nah, di sebelah be ada huruf apa?” Bunda menunjuk pada huruf a.

“A-a, Bun,” jawab Kanaya sambil menutup mulut, takut salah.

“Nah, pinter. Ayo, Nay, jangan takut salah. Kanaya betul, ini huruf a.” Bunda mengulang mengeja tiga kali.

“Nah, kalau ini, Nay?” tanya Bunda menunjuk pada satu huruf.

“I, i,” jawab Kanaya semangat.

Bunda mengacungkan jempol.

Akhirnya, Kanaya bisa menyebutkan huruf vokal dengan lancar. Kemudian, Bunda menyuruh Kanaya untuk membaca dua huruf.

“huruf b, huruf a, bacanya ba. Dibaca apa, Nay?” tanya Bunda.

“Ba,  Bunda,” jawab Kanaya.

Bunda pun menyuruh Kanaya membaca dua huruf berikutnya hingga akhir.

“Huruf b, huruf o … dibaca …,” ucap Kanaya berpikir.

“Ayo, dibaca apa, Nay,” kata Bunda.

“B-o, bo!” Kanaya bersorak sambil berdiri karena sudah bisa membaca ba-bi-bu-be-bo dengan lancar.

“Kanaya pintar,” puji Bunda bertepuk tangan.

Kanaya tersenyum percaya diri.

“Sekarang Kanaya ambil pensil ikuti garis ini, ya.” Bunda menunjuk latihan menebalkan huruf yang ditulis putus-putus pada buku halaman 7.

“Oke, Bunda,” jawab Kanaya dengan semangat.

Anak perempuan itu mengambil pensil dan mulai mengikuti garis putus-putus. Tidak berapa lama, Kanaya selesai menebalkan semua huruf.

“Wah, Kanaya memang anak pintar. Sudah bisa menulis.” Bunda memberi pujian.

“Iya, dong. Kanaya, gitu, lo!” jawab Kanaya bangga.

“Iya, deh, tapi, belajarnya enggak boleh malas-malas, Nay. Besok latihan membaca lagi. Oke!” ucap Bunda.

“Siap, Bunda Cantik!” ucap Kanaya tertawa.

“Sekarang, boleh minta hadiahnya sama

Bunda?” tanya Kanaya lagi.

“Oh, iya. Kirain, Kanaya udah lupa,” jawab Bunda tersenyum sambil menyengir.

“Bundaaa!”

Pdg, 17 November 2021

Editor: Ayu Ningtyas

#joeraganartikel

#Eventcernak

#Day3

Ibu tiga anak yang ingin menulis banyak karya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *